Halaman

Minggu, 09 Januari 2011

ANALISIS BANGUNAN PUBLIK DI DEPOK DENGAN MENGGUNAKAN METODE ADVOKASI

Definisi Kritik Advokasi :

Kritik Advokasi yaitu : metode kritik dalam arsitektur yang memberikan sekadar anjuran yang mencoba bekerja dengan penjelasan lebih terperinci yang kadangkala juga banyak hal yang terlupakan.

Objek yang akan dianalisis adalah : Plaza Depok, Depok


Plaza Depok, Depok
Plaza Depok merupakan salah satu pusat perbelanjaan (mall) yang terletak di daerah Depok. Plaza Depok adalah pusat perbelanjaan paling pertama berdiri di Depok. Mall ini sangat strategis, terletak dekat dengan terminal angkot, persisnya terletak diseberang terminal angkot Depok Baru. Tempat ini merupakan salah satu tempat tujuan berbelanja bagi masyarakat Depok, dan juga sebagai tempat Hang Out bagi para remaja, karena didalamnya terdapat Main Store, seperti : Ramayana Department Store, Toko Buku Gunung Agung, Food Court, Bioskop 21, KFC, Mc Donald's, Dunkin's Donuts, dsb, yang dijadikan tempat untuk berbelanja, ataupun sekedar jalan-jalan.

 
Plaza Depok Secara Arsitektural (Fasad Bangunan):
Menurut Saya, Fasad Bangunan Plaza Depok terlihat monoton, karena terlihat dari luar bangunan ini tidak ada yang menarik, bila dibandiingkan dengan pusat perbelanjaan lainnya, seperti Margo City dan Detos, masih jauh lebih menarik kedua pusat perbelanjaan tersebut.  Ketidak menarikan bangunan ini terletak pada Main Interest yang belum terlihat, karena bangunan ini terkesan datar, dan belum memunculkan identitas aslinya (Focal Point). Envelope Buildingnya juga masih harus perlu diolah, karena masih terlihat biasa saja seperti mall-mall lainnya. Karena bangunan ini adalah pusat perbelanjaan yang bersifat komersil, jadi harus mencerminkan nilai jual yang tinggi, sehingga masyarakat yang melihatnya menjadi tertarik untuk masuk dan berbelanja kedalamnya. Permainan warna pada Envelope Buildingnya masih harus diolah, karena masih terkesan biasa-biasa saja.


Plaza Depok Secara Arsitektural (Landscape):
Landscape pada Plaza Depok juga masih kurang menarik, menurut saya kurangnya vegetasi pada bangunan ini membuat bangunan ini kurang menarik. Feel seseorang yang ingin memasuki sebuah bangunan harus kita perhatikan juga. Keindahan dan kenyamanan pada sisi luar bangunan ini, yang membuat seseorang dapat merasa senang berkunjung ke Mall tersebut, Apabila ditambah sebuah vegetasi disekitar bangunan ini, seperti tanaman pengindah (tanaman bunga yang berwarna-warni) mungkin dapat meningkatkan rasa senang tersebut, tidak ada salahnya-kan bila ditambahakan vegetasi pada bangunan tersebut.  Vegetasi tersebut memberikan nilai estetika tambahan, diluar dari keindahan bangunannya itu sendiri.


Lokasi Plaza Depok:
Lokasi pada Plaza Depok yang memberikan keuntungan dan nilai tambahan pada bangunan tersebut. Lokasi bangunan ini sangat strategis, karena terletak diseberang terminal Depok Baru, yang mana dari daerah lain disekitar Depok, seperti Sawangan, Depok Timur, Cibinong, dll, dapat mudah menuju lokasi tersebut. Orang yang ingin menuju tempat ini dapat menaiki angkot yang pada akhirnya menuju terminal tersebut, maka sayang apabila keuntungan dari lokasi Mall ini tidak diimbangi dari Keindahan dan Kemenarikan bangunan tersebut dimata para pengunjung.

Kesimpulannya :
Plaza Depok seharusnya dapat menjadi acuan bagi mall-mall disekitarnya, karena Plaza Depok merupakan mall pertama yang berdiri di Depok. Seharusnya Plaza Depok dapat memberikan inspirasi bagi mall-mal sekitarnya. Dengan keuntungan lokasi yang strategis menjadikan nilai tambahan bagi mall Plaza Depok. Hal ini sangat disayangkan apabila Plaza Depok hanya menampilkan hal-hal tersebut (hal yang disebutkan diatas). Apabila hal-hal yang saya sebutkan diatas dapat dipertimbangkan, mungkin Plaza Depok dapat mengangkat citra dirinya lebih tinggi, alih-alih Plaza Depok dapat menjadi ikon bagi kota Depok dimasa sekarang dan kedepannya nanti. Semoga Saja... :)

Tulisan diatas merupakan uraian yang saya jelaskan menurut pendapat saya, jadi bukan maksud saya menjelek-jelekan Plaza Depok, saya hanya berpendapat menurut apa yang saya amati, semoga tulisan ini menjadi inspirasi dan pertimbangan bagi kita semuanya, sehingga apabila mendesain sebuah bangunan dapat dipertimbangkan dan dipikirkan secara matang. Dengan adanya kelebihan dan keuntungan, dari hal-hal yang mendukung kita dalam mendesain sebuah bangunan dapat kita manfaatkan dan kita tunjukan nilai tambahan tersebut, agar orang yang melihat dan merasakannya dapat juga merasa senang dan nyaman atas apa yang kita rasakan. Amin...

Senin, 08 November 2010

ANALISIS BANGUNAN PUBLIK DI DEPOK DENGAN MENGGUNAKAN METODE TERUKUR

Definisi Kritik Terukur :

Kritik Terukur yaitu: metode kritik dengan melihat ukuran dan besaran ruang yang digunakan dalam sebuah bangunan dengan acuan standarisasi dengan bangunan lainnya. dan juga dapat mengacu pada standarisasi yang telat ditetapkan dalam Data Arsitektur (Neufert Architect's Data) dan Time Saver


Objek yang akan dianalisis adalah : Margo City, Depok

Margo City, Depok




Margo City merupakan: pusat belanja dan hiburan yang terletak di Jl. Margonda Raya, dengan gedung berdesain dinamis dan modern. Margo City juga didukung dengan desain arsitektur yang khas dan unik, yaitu memiliki landmark sebuah crown berbentuk rangkaian besi tersusun menjulang di atas atrium dan skylight, setinggi 40 m. Bangunan 4 lantai yang terdiri dari Lower Ground, Ground Floor, 1st Floor, dan 2nd Floor ini dilengkapi dengan 4 void dan Escalator, Travelator, dan Elevator bagi pengunjung.

Denah Margo City

Denah Lower Ground Margo City, Depok
Denah Ground Floor Margo City, Depok
Denah First Floor Margo City, Depok
Denah Second Floor Margo City, Depok

Pada masing-masing denah Margo City dapat kita lihat terdapat ruang-ruang berbentuk persegi dan persegi panjang, pendesainan denah tersebut dapat kita analisis bahwa dalam perancangannya menggunakan metode Grid, yang telah dipertimbangkan dengan sangat sistematis dan terukur. Penggunaan metode Grid tersebut bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan fungsi pada ruang tersebut.

Pola yang digunakan pada setiap denah lantainya juga sama, yaitu terdapat sebuah lingkaran pada bagian tengah denah dan diikuti ruang-ruang persegi dan persegi panjang disekitarnya

Acuan dari pendesainan ruang tersebut sebenarnya terbentuk dari kebutuhan space, perhitungan ruang tersebut diukur dari space ruang yang terdapat dari 'personal space' manusia, sehingga pendesaianan ruang tersebut diperuntukan seberapa banyak manusia yang bisa masuk kedalam bangunan tersebut.

Personal Space, Neufert Architect's Data
Interior Margo City

Interior Margo City
Pada bagian interior Margo City terdapat sebuah atrium yang terbuka dari Ground Floor sampai 2nd Floor, pembuatan atrium ini pasti telah diukur dengan pasti dan tepat, agar setiap pengunjung dapat merasakan keadaan disekitarnya dengan rasa nyaman dan tenang, karena terdapat tempat duduk bagi para pengunjung untuk bersantai dan sekedar merilekskan diri.


Ruang terbuka dalam suatu bangunan akan menciptakan suasana yang lebih mengesankan dan membuat perasaan seseorang akan menjadi lebih rileks, tenang, senang, dsb. maka pembuatan atrium ini sangat direncanakan dan dipikirkan secara matang dan terukur. Pengukuran besaran ruang pada bangunan Margo City ini mungkin mengacu pada besaran standarisasi yang terdapat dalam modul dan juga mungkin pengaruh dari bangunan-bangunan lainnya, yang struktur dan besarannya dapat diterapkan dalam bangunan Margo City ini.

Kesimpulannya :

Dari hasil analisis dengan metode terukur dapat disimpulkan bahwa bangunan Margo City merupakan bangunan yang sudah direncanakan secara matang dan terukur. Perencanaan pada denah menggunakan metode Grid yang dapat memaksimalkan fungsi dari ruang tersebut secara maksimal, dan bagian atrium pada interiornya dibuat secara maksimal, sehingga seseorang yang berada didalamnya dapat merasakan kenyamanan dan tenang, dan juga fungsi dari atrium tersebut berfungsi dengan baik, karena keberadaan sebuah atrium dalam sebuah Mall adalah sangat penting dan wajib ada, karena itu merupakan, unsur terpenting yang dapat di jadikan ukuran acuan dari pemanfaatan fungsi ruang dari bangunan itu sendiri.



Kamis, 13 Mei 2010

Kepadatan dan Kesesakan

KEPADATAN (DENSITY)


Kepadatan adalah :

- Sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan (Sundstrom, dalam Wrightsman & Deaux, 1981).
- Sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFarling, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978).
- Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat apabila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).


Jenis Kepadatan :

- Menurut Holahan (1982) yaitu :
  1. Kepadatan Spasial (Spatial Density) terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit sedangkan jumlah individu tetap, sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan menurunnya besar ruang.
  2. Kepadatan Spasial (Spatial Density) terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi dengan penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu.

-
Menurut Altman (1975) yaitu :
  1. Kepadatan Dalam (Inside Density) yaitu sejumlah individu yang berada dalam suatu ruangan atau tempat tinggal seperti kepadatan di dalam rumah, kamar, dsb.
  2. Kepadatan Luar (Outside Density) yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, seperti jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.

- Menurut Jain (1987) yaitu :

Setiap wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda dengan jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian dan struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman. Sehingga suatu wilayah pemukiman dapat dikatakan mempunyai kepadatan tinggi atau kepadatan rendah.


- Menurut Zlutnick dan Altman (dalam Altman, 1975; Holahan, 1982) menggambarkan sebuah model dua dimensi untuk menunjukkan beberapa macam tipe lingkungan pemukiman yaitu :
  1. Lingkungan Pinggiran Kota, yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang rendah.
  2. Wilayah desa miskin di mana kepadatan dalam tinggi sedangkan kepadatan luar rendah.
  3. Lingkungan mewah perkotaan, dimana kepada dalam rendah sedangkan kepadatan luar tinggi.
  4. Pekampungan Kota ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang tinggi.


- M
enurut Taylor (dalam Gifford, 1982) yaitu :
Lingkungan sekitar dapat merupakan sumber yang penting dalam mempengaharui sikap, perilaku, keadaan internal seseorang di suatu tempat tinggal. Oleh karena itu individu yang bermukim di pemukiman dengan dengan kepadatan yang berbeda mungkin menunjukkan sikap dan perilaku yang berbeda pula.


Akibat dari Kepadatan Tinggi

Rumah dan Lingkungan pemukiman akan memberikan pengaruh psikologis pada individu yang menempatinya, para ahli mengemukakan akibat dari kepadatan yang tinggi yaitu:

- Menurut Taylor (dalam Gifford, 1982) berpendapat bahwa lingkungan sekitar dapat merupakan sumber yang penting dalam mempengaharui sikap, perilaku, dan keadaan internal individu di suatu tempat tinggal. Rumah dan lingkungan pemukiman yang memiliki situasi dan kondisi yang baik dan nyaman seperti memiliki ruang yang cukup untuk kegiatan pribadi akan memberikan kepuasan psikis pada individu yang menempatinya.

- Menurut Schorr (dalam Ittelson, 1974) mempercayai bahwa macam dan kualitas pemukiman dapat memberikan pengaruh penting terhadap persepsi diri penghuninya, stres dan kesehatan fisik, sehingga kondisi pemukiman ini tampaknya berpengaruh pada perilaku dan sikap-sikap orang yang tinggal disana (Ittelson, 1974).

- Menurut Penelitian Valins dan Baum (dalam Heimstra dan MacFarling, 1978) menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kepadatan dengan interaksi sosial. Para mahasiswa yang bertempat tinggal di asrama yang padat sengaja mencari dan memilih tempat duduk yang jauh dari orang lain, tidak berbicara dengan orang lain yang berada di tempat yang sama. Dengan kata lain mahasiswa yang tinggal di tempat padat cenderung untuk menghindari kontak sosial dengan orang lain.

- Akibat secara Fisik yaitu : reakasi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain (Heimstra dan MacFarling, 1978).

- Akibat secara Sosial yaitu : adanya masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan MacFarling, 1978; Holahan, 1982; Gifford, 1987).

- Akibat secara Psikis yaitu:
  1. Stress, kepadatan tinggi dapat menumbuhkan perasaan negatif, rasa cemas, stress (Jain, 1987) dan perubahan susana hati (Holahan, 1982).
  2. Menarik diri, kepadatan tinggi menyebabkan individu cenderung untuk menarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Heimstra dan MacFarling, 1978; Holahan, 1982; Gifford, 1987).
  3. Perilaku menolong (perilaku prososial), kepadatan tinggi juga menurunkan keinginan individu untuk menolong atau memberi bantuan pada orang lain yang membutuhkan, terutama orang yang tidak dikenal (Holahan, 1982; Fisher dkk., 1984).
  4. Kemampuan mengerjakan tugas, situasi padat menurunkan kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugasnya pada saat tertentu (Holahan, 1982).
  5. Perilaku agresi, situasi padat yang dialami individu dapat menumbuhkan frustasi dan kemarahan, serta pada akhirnya akan terbentuk perilaku agresi (Heimstra dan MacFarling, 1987; Holahan. 1982).


KESESAKAN (CROWDING)


Kesesakan adalah :

- Menurut Altman (1975), kesesakan adalah suatu prosesinterpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan lainnya dalam
suatu pasangan atau kelompok kecil. Perbedaaan pengertian antara crowding (kesesakan) dengan density (kepadatan) kadang-kadang keduanya memiliki pengertian yang sama dalam merefleksikan pemikiran secara fisik dari sejumlah manusia dalam suatu kesatuan ruang.

- Menurut Altman (1975), Heimstra dan McFarling (1978) antara kepadatan dan kesesakan memiliki hubungan yang erat kerena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu (Heimstra dan McFarling, 1987; Holahan, 1982).

- Menurut Baum dan Paulus (1987) menerangkan bahwa proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan empat faktor :
  1. Karakteristik seting fisik.
  2. Karakteristik seting sosial.
  3. Karakteristik personal.
  4. Kemampuan beradaptasi.
Keempat faktor ditambah dengan kepadatan tersebut dapat dirangkum pada gambar berikut :


- Menurut Stokols (dalam Altman, 1975) membedakan antara kesesakan bukan sosial (nonsocial crowding) yaitu dimana faktor-faktor fisik menghasilkan perasaan terhadap ruang yang tidak sebanding, seperti sebuah ruang yang sempit, dan kesesakan sosial (social crowding) yaitu perasaan sesak mula-mula datang dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak. Stokols juga menambahkan perbedaan antara kesesakan molekuler dan molar. Kesesakan molar (molar crowding) yaitu perasaan sesak yang dapat dihubungkan dengan skala luas, populasi penduduk kota, sedangkan kesesakan molekuler (moleculer crowding) yaitu perasaan sesak yang menganalisis mengenai individu, kelompok kecil dan kejadian-kejadian interpersonal.

- Menurut Morris, (dalam Iskandar, 1990) memberi pengertian kesesakan sebagai defisit suatu ruangan. Hal ini berarti bahwa dengan adanya sejumlah orang dalam suatu hunian rumah, maka ukuran per meter persegi setiap orangnya menjadi kecil, sehingga dirasakan adanya kekurangan ruang. Besar kecilnya ukuran rumah menentukan besarnya rasio antara penghuni dan tempat (space) yang tersedia. Makin besar rumah dan makin sedikitnya penghuninya, maka akan semakin besar rasio tersebut. Sebaliknya, makin kecil rumah dan makin banyak penghuninya, maka akan semakin kecil rasio tersebut, sehinggaakan tinbul perasaan sesak (crowding) (Ancok, 1989).

Teori Kesesakan

Untuk menerangkan terjadinya kesesakan dapat digunakan tiga model teori, yaitu : Beban Stimulus, Kendala Perilaku, dan Teori Ekologi (Bell dkk, 1978; Holahan, 1982).

  1. Model Beban Stimulus, yaitu : kesesakan akan terjadi pada individu yang dikenai terlalu banyak stimulus, sehingga individu tersebut tak mampu lagi memprosesnya.
  2. Model Kendala Prilaku, yaitu : menerangkan kesesakan terjadi karena adanya kepadatan sedemikian rupa, sehingga individu merasa terhambat untuk melakukan sesuatu. Hambatan ini mengakibatkan individu tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkannya. Terhadap kondisi tersebut, individu akan melakukan psychological reactance, yaitu suatu bentuk perlawanan terhadap kondisi yang mengancam kebebasan untuk memiliih.
  3. Model Teori Ekologi, yaitu : membahas kesesakan dari sudut proses sosial.

1. Teori Beban Stimulus

Pendapat teori ini mendasarkan diri pada pandangan bahwa kesesakan akan terbentuk bila stimulus yang diterima individu melebihi kapasitas kognitifnya sehingga timbul kegagalan memproses stimulus atau informasi dari lingkungan. Schmidt dan Keating (1979) mengatakan bahwa stimulus disini dapat berasal dari kehadiran banyak orang beserta aspek-aspek interaksinya, maupun kondisi-kondisi fisik dari lingkungan sekitar yang menyebabkan bertambahnya kepadatan sosial. Berlebihnya informasi dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti:

(a) Kondisi lingkungan fisik yang tidak menyenangkan.
(b) Jarak antar individu (dalam arti fisik) yang terlalu dekat.
(c) Suatu percakapan yang tidak dikehendaki.
(d) Terlalu banyak mitra interaksi.
(e) Interaksi yang terjadi dirasa lalu dalam atau terlalu lama.

2. Teori Ekologi

Menurut Micklin (dalm Holahan, 1982) mengemukakan sifat-sifat umum model ekologi pada manusia. Pertama, teori ekologi perilaku memfokuskan pada hubungan timbal balik antara orang dengan lingkungannya. Kedua, unit analisisnya adalah kelompok sosial dan bukan individu, dan organisasi sosial memegang peranan sangat penting. Ketiga, menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber-sumber material dan sosial.
Wicker (1976) mengemukakan teorinya tentang manning. Teori ini berdiri atas pandangan bahwa kesesakan tidak dapat dipisahkan dari faktor seting dimana dimana hal itu terjadi, misalnya pertunjukan kethoprak atau pesta ulang tahun.

Analisi terhadap seting meliputi :
  1. Maintenance minim, yaitu jumlah minimum manusia yang mendukung suatu seting agar suatu aktivitas dapat berlangsung. Agar pembicaraan menjadi lebih jelas, akan digunakan kasus pada sebuah rumah sebagai contoh suatu seting. Dalam hal ini, yang dinamakan maintenance setting adalah jumlah penghuni penghuni rumah minimum agar suatu ruang tidur ukuran 4 x 3 m bisa dipakai oleh anak-anak supaya tidak terlalu sesak dan tidak terlalu longgar.
  2. Capacity, adalah jumlah maksimum penghuni yang dapat ditampung oleh seting tersebut (jumlah orang maksimum yang dapat duduk di ruang tamu bila sedang dilaksanakan hajatan)
  3. Applicant, adalah jumlah penghuni yang mengambil bagian dalam suatu seting. Applicant dalam seting rumah dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
  • Performer, yaitu jumlah orang yang memegang peran utama, dalam hal ini suami dan isteri.
  • Non-performer, yaitu jumlah orang yang terlibat dalam peran-peran sekunder, dalam hal ini anak-anak atau orang lain dalam keluarga.
Besarnya maintenance minim antara performer dan non-performer tidak terlalu sama. Dalam seting tertentu, jumlah performer lebih sedikit daripada jumlah non-performer, dalam seting lain mungkin sebaliknya.

3. Teori Kendala Perilaku

Menurut teori ini, suatu situasi akan dianggap sesak apabila kepadatan atau kondisi lain yang berhubungan dengannya membatasi aktivitas individu dalam suatu tempat.

Menurut Altman kondisi kesesakan yang ekstrim akan timbul bila faktor-faktor dibawah ini muncul secara simultan:

1. Kondisi-kondisi pencetus, terdiri dari tiga faktor :
(a) Faktor-faktor situsional, seperti kepadatan ruang yang tinggi dalam jangka waktu yang lama, dengan sumber-sumber pilihan perilaku yang terbatas.
(b) Faktor-faktor personal, seperti kurangnya kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dalam situasi yang padat dan rendahnya keinginan berinteraksi dengan orang lain yang didasarkan pada latar belakang pribadi, suasana hati, dan sebagainya.
(c) Kondisi interpersonal, sepwerti gangguan sosial, ketidak mampuan memperoleh sumber-sumber kebutuhan, dan gangguan lainnya.

2. Serangkaian faktor-faktor organismik dan psikologis seperti stress, kekacauan pikiran, dan persaan kurang enak badan.

3. Respon-respon pengatasan, yang meliputi beberapa perilaku verbal dan non verbal yang tidak efektif dalam mengurangi stress atau dalam mencapai interaksi yang diinginkan dalam jangka waktu yang panjang atau lama.


Faktor-Faktor yang Mempengaharui Kesesakan

Terdapat tiga faktor yang mempengarui kesesakan yaitu : personal, sosial, dan fisik.

1. Faktor Personal


Terdiri dari kontrol pribadi dan locus of control; budaya, pengalaman, dan proses adaptasi; serta jenis kelamin dan usia.

2. Faktor Sosial

Menurut Gifford (1987) secara personal individu dapat mengalami lebih banyak lebih sedikit mengalami kesesakan cenderung dipengaharui oleh karakteristik yang sudah dimiliki, tetapi di lain pihak pengaruh orang lain dalam lingkungan dapat juga memperburuk kedaan akibat kesesakan. Faktor-faktor sosial yang berpengaruh tersebut adalah :

(a) Kehadiran dan perilaku orang lain.
(b) Formasi koalisi.
(c) Kualitas hubungan.
(d) Informasi yang tersedia.

3. Faktor Fisik

Altman (1975), Bell dkk (1978), Gove dah Hughes(1983) mengemukakan adanya faktor situasional sekitar rumah sebagai faktor yang juga mempengaharui kesesakkan. Stessor yang menyertai faktor situasional tersebut seperti suara gaduh, panas, polusi, sifat lingkungan, tipe suasana, dan karakteristik seting. Faktor situasional tersebut antara lain :

(a) Besarnya skala lingkungan.
(b) Variasi arsitektural.

sumber :
elearning.gunadarma.ac.id/.../bab4-kepadatan_dan_kesesakan.pdf